Kamis, Maret 21, 2013
Sebagai seorang beriman kita harus yakin dengan sepenuh hati bahwa Allah memiliki rencana yang terperinci terhadap makhluk-Nya, termasuk manusia. Beriman kepada Qadha dan Qadar Allah termasuk rukun (pilar) iman. Tidak sah keimanan seseorang jika ia tidak membenarkan ajaran takdir, tanpa ragu sedikitpun bahwa sesungguhnya Dia Maha Luas Ilmu-Nya.
Rasulullah SAW berkata, “Tidaklah seorang hamba itu beriman kepada takdir yang baik dan buruk dari Allah, hingga ia mengetahui bahwa apa yang menimpanya bukan karena kesalahannya, dan kesalahannya itu tidaklah akan menimpanya.” (Riwayat At-Turmudzi)

SKENARIO LENGKAP
Beriman kepada takdir berarti kita meyakini bahwa Allah telah memiliki rencana lengkap, terperinci dan pasti atas diri kita. Tiada sekecil apa pun yang berkaitan dengan kita melainkan sudah termaktub dalam rencana besar-Nya. Misalnya, siapa ibu bapak kita; apa nama yang diberikan kepada kita; siapa jodoh kita; kapan ajal kita tiba; berapa bagian rezeki kita; bagaimana nasib kita setelah meninggalkan dunia; dan seterusnya.
Allah berfirman:
@è% `©9 !$uZu;ÅÁムžwÎ) $tB |=tFŸ2 ª!$# $uZs9 uqèd $uZ9s9öqtB 4 n?tãur «!$# È@ž2uqtGuŠù=sù šcqãZÏB÷sßJø9$# ÇÎÊÈ  
Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." (At-Taubah : 51)
Dengan kata lain, semua lakon kehidupan manusia sejak kelahirannya hingga kematiannya sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan oleh Allah tanpa bisa diubah dan diselisihi, baik yang besar ataupun yang kecil, masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.
Kebanyakan manusia salah paham memandang ajaran takdir. Bila masa lalunya dipenuhi berbagai kegagalan, mereka cenderung mempersepsikan bahwa itu suratan takdirnya. Mereka cenderung berfikir negative. Mereka menyimpulkan bahwa tidak ada kemungkinan untuk mengubah diri. Mereka menjadi apatis dan pasif. Padahal, ketidaksuksesan itu boleh jadi bukan karena dirinya, melainkan karena Allah belum menghendakinya.
Apabila seseorang mencoba namun belum juga sukses, bukan berarti mereka tidak mampu, bukan berarti pula mereka tidak sanggup. Boleh jadi ketidaksuksesan itu muncul dari rasa subjektivitas mereka. Mereka lupa bahwa keberhasilan itu diperoleh melalui beberapa kali percobaan. Berbagai pengalaman gagal justru menjadi modal penting meraih sukses. Sebaliknya, orang yang masa lalunya dipenuhi berbagai keberhasilan, cenderung memiliki mental optimis yang berlebihan. Mereka merasa seakan-akan keberhasilan itu suratan takdirnya. Mereka melihat diri mereka tidak mungkin jatuh. Mereka tidak menyadari bahwa dunia ini mengalami pasang surut (fluktuatif).
Jika takdir gagal menyambangi mereka maka mereka langsung tak bisa menerimanya. Mereka cenderung mengkambinghitamkan orang lain dan Tuhan. Mereka hanya siap menerima kemenangan dan tidak siap menerima kekalahan. Mereka menjadi sombing dan tinggi hati, iri hati dan sakit hati.
Bagitulah manusia, kebanyakan tidak benar memahami takdir. Hal demikian akan melahirkan manusia yang jiwanya terbelah, tidak seimbang, tidak utuh (split personality)

CARA MENYIKAPI TAKDIR
Rasulullah memberikan tuntunan yang indah dalam menyikapi takdir. Sabda beliau, “Bersemangatlah untuk memperoleh apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan sekali-kali merasa tidak berdaya. Dan apabila engkau tertimpa suatu kemalangan maka janganlah engkau berkata, ‘Seandainya aku berbuat (begini) tentu begini dan begitu”. Tapi kataknlah, “Allah telah menakdirkan (begitu)”. Dan apa yang dia kehendaki Dia perbuat, karena perkataan Seandainya itu membuka pintu setan.” (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah)
Berdasarkan Hadist diatas, setidaknya ada empat pelajaran penting tentang iman kepada takdir, yakni:
Manusia harus terlebih dahulu menentukan sasaran yang jelas mengenai apa yang bermanfaat bagi kehidupannya. Kita boleh berupaya memperoleh ilmu, harta, kekuasaan, pengaruh dan yang lainnya, asal semua itu bukan untuk mendatangkan mudharat (bahaya yang mengancam) bagi dirinya dan orang lain. Sesungguhnya Allah memberikan sesuatu kepada seseorang berbanding lurus dengan gambaran mentalnya. Rasulullah SAW dalam Hadist yang diriwayatkan Tahbrani dan Abu Nu’aim dari Watsilah, berkata bahwa Allah menuruti persangkaan hamba-Nya terhadap-Nya, kalau baik maka baiklah ia. Kalau buruk maka buruklah.
Berikhtiar semaksimal mungkin. Adapun hasil akhir, serahkan kepada Allah. Manusia hanya berusaha. Dia yang menentukan.
Mohon pertolongan Allah dalam berusaha. Sebab, bagi-Nya tidak ada yang sulit, berat, apalagi jalan buntu. Dia penguasa segala-galanya tanpa dibatasi apapun.
Janganlah merasa tidak berdaya, karena pada dasarnya setiap manusia telah diberi potensi-potensi yang dahsyat.
Jika hari ini kita dirundung duka, jangan larut dalam kesedihan. Sebaliknya, jika kita sedang naik daun, jangan larut dalam kesenangan. Sesungguhnya kenikmatan itu tidak kekal (laa yadum).

BAHAYA “SEANDAINYA”
Rasulullah senantiasa mengajarkan kepada manusia agar berfikir positif. Berikut adalah langkah-langkahnya:
1.      Jangan berkata, “Seandainya aku kerjakan begitu pasti terjadi begini”. Atau, “Seandainya aku tidak mengejarkan begitu tentu tidak akan terjadi begini.” Perkataan tersebut berarti kita lupa bahwa apa yang telah terjadi di masa lalu sudah sesuai dengan apa yang menjadi takdir kita saat ini.
2.      Tapi berkatalah, “Allah telah mantakdirkan bagitu dan apa yang Dia kehendaki Dia perbuat”. Jadi, apa yang telah terjadi terhadap diri kita adalah atas kehendak Allah yang tak mungkin dihindari dan diubah oleh siapapun. Kita harus menerima semua itu sebagai kenyataan. Kita harus bersikap realistis. Kita tidak usah larut dalam kekecewaan, agar tidak memboroskan energi untuk hal-hal yang destruktif.
3.      Janganlah mengatakan “Seandainya” bila keberatan dengan takdir. Kata-kata “Seandainya” hanya membuka pintu setan.
Apa yang kita andaikan sekarang untuk dilakukan atau tidak dilakukan di masa lalu, maupun efek dari perbuatan yang diandaikan itu, mustahil terjadi. Sebab, masa lalu itu tidak mungkin bisa ditarik kembali untuk diperbaiki sesuai dengan kemauan kita sekarang ini.
Jika, apa manfaatnya berkata “Seandainya”? perkataan itu hanya akan memicu penyesalan yang berlarut-larut, marah yang tidak terkendali, dendam yang semakin membara, serakah dan dengki. Semua itu hanya akan menghabiskan energi dan potensi manusia.
Kita harus sadar bahwa kehidupan di dunia ini pasti mengalami pasang surut. Itulah romantika kehidupan. Bahkan boleh jadi lewat romantika itulah pahala mengalir deras untuk kita. Bukankah pahala itu berbanding lurus dengan tingkat kesulitan dan kepayahan kaus Muslim? Pertolongan Allah mustahil datang dengan cara instan (tiba-tiba) dan gratis (majjanan).


Sumber: Suara Hidayatullah Edisi 07|Nopember 2012|Dzulhijjah 1433|

CARA RASUL MENYIKAPI TAKDIR

Posted by Reza Arrizal F
Rabu, Desember 05, 2012
Foto-foto pertandingan antara Liverpool vs Manchester City, 26 Agustus 2012 di Anfield Stadium Liverpool. Pada pertandingan tersebut Liverpool nyaris menang andai saja Martin Skrtel tidak melakukan blunder. Liverpool harus merelakan hasil akhir pertandingan dengan skor akhir 2 -2. Keunggulan terlebih dahulu dilakukan oleh liverpool dengan gol yang dilesatkan oleh Martin Skrtel pada menit 34 menyambut bola hasil sepakan pojok Steven Gerrard melalui sundulan kepala. Liverpool unggul 1 - 0. Pada babak kedua Manchester City mampu menyamakan kedudukan hasil sepakan jarak dekat Yaya Toure memanfaatkan bola liar hasil umpan silang Carlos Teves yang gagal dihalau oleh Pepe Reina dan gagal pula dikendalikan oleh Martin Kelly. Kedudukan imbang 1 -1. 3 menit berselang, Liverpool mampu unggul kembali lewat lesatan Luiz Suarez pada menit 66 melalui tendangan bebas ketiang dekat tanpa mampu dijangkau Joe Hart. Tendangan bebas didapat akibat hansball yang dilakukan Jack Rodwell. Liverpool kembali unggul 2 - 1. Namun kesalahan fatal yang dilakukan Martin Skrtel saat melakukan Back Pass kepada Pepe Reina harus dibayar mahal, karena bola mengarah tepat kepada Carlos Tevez. Tanpa kesalahan Tevez mengecoh Pepe Reina dan GOL untuk Manchester City. Skor imbang 2 - 2 menjadi skor akhir pada pertandingan tersebut.




Silahkan download lengkap di sini
Selasa, Desember 04, 2012
Foto-foto pertandingan Liverpool vs West Bromwich Albion pada 18 Agustus 2012 di The Howthorns, kandang West Brom Leg 1. Pada pertandingan tersebut Liverpool kalah telak 3 - 0 melalui gol Zoltan Gera pada menit 43. Gol kedua oleh Peter Odemwingie melalui titik putih pada menit 64. Pinalti diberikan wasit karena Daniel Agger melakukan pelanggaran terhadap Shane Long yang membuatnay dikartu merah oleh wasit. Gol ketiga dilesatkan oleh Romelu Lukaku di menit 77.




Silahkan download lengkap di sini

Liverpool FC gallery By Vanrez..




Silahkan Download lengkap di sini

Wallpaper Liverpool FC 1

Posted by Reza Arrizal F
Selasa, September 18, 2012
Afrika selatan adalah Negara yang terletak diujung selatan Benua Afrika. Sekitar 79,5 persen penduduknya keturunan Afrika Hitam, yang terbagi dalm berbagai kelompok etnik. Afrika Selatan juga memiliki penduduk asal Eropa dan Asia. Orang-orang eropa berkulit putih telah mengkoloni Afrika Selatan sejak pertengahan abad -17. Orang kulit kulit putih yang utamanya dari Belanda dan Inggris telah menguasai kehidupan politik dan ekonomi Negara itu.

Pada 1948, Partai Nasional naik kepuncak kekuasaan. Partai ini memperkokoh politik pemisah ras yang telah dimulai sejak kekuasaan Belanda dan Inggris. Pemerintah Nasionalis membagi semua penduduk berdasarkan ras, yang masing-masing memiliki hak dan keterbatasan. Minoritas kulit putih menguasai penduduk kulit hitam yang mayoritas. Kebijakan itu secara formal dilembagakan yang kemudian dikenal dengan Apartheid (pemisahan). Minoritas kulit putih meikmati standart hidup tinggi, sementara mayoritas kulit hitam tetap terbelakang dalam pendapatan, pendidikan, perumahan dan harapan hidup.

Salah satu tokoh penting dimasa Apartheid adalah Nelson Mandela. Semua orang tau ia bukanlah seorang Muslim. Tapi ada satu sisi yang menarik, yaitu sikapnya sebagai pemimpin yang berjuang dan kemudian berhasil menghapus Apartheid. Kulit putih berkuasa dan memandang rendah serta menindas kaum kulit hitam. Itu sebuah kedzaliman yang terstructur sehingga kulit hitam tidak mendapatkan hak-haknya sebagai manusia yang wajar dan sebagai warga Negara yang sah dalam sebuah Negara yang mayoritas berkulit hitam.

Nelson Mandela lahir di Traskei, Afrika Selatan pada 18 Juli 1918. Mandela belajar di Universitas Colledge of Fort Hare dan University of Witwaterstand dan memperoleh gelar sarjana hukum pada 1942. Ia bergabung dengan ANC (African National Congress; Kongres Nasional Afrika) pada 1944 dan terlibat dalam gerakan perlawanan terhadap Partai Nasional, partai pendukung Apartheid. Karena perjuangannya itu, ia diadili atas tuduhan subservi pada 1956-1961 dan diputus tidak bersalah pada 1961.

Setelah ANC dilarang pada 1960, Nelson Mandela mendirikan sayap militer dalam ANC yang bergerak dibawah tanah. Pada Juni 1961, ANC mempertimbangkan usulannya untuk menggunakan taktik kekerasan dan menyutujui bahwa siapa saja yang bergabung dalam gerakan Mandel tidak akan dihang-halangi oleh ANC. Pemikiran ini mengantarkan lahirnya Umkhonto we Sizwe, semacam gerilyawan kota. Mandela ditangkap pada 1962 dan dihukum 5 tahun penjara dengan kerja paksa. Pada 1963, ketika beberapa pemimpin ANC dan Umkhonto we Sizwe ditahan, Mandela diadili bersama atas tuduhan plot untuk menggulingkan pemerintah dengan kekerasan.

Pernyataanya dari ruang pengadilan mendapatkan perhatian internasional. Pada 12 Juni 1964, delapan orang dari tertuduh, termasuk Mandela, dijatuhi hukuman seumur hidup. Dari 1964 sampai 1982. Ia ditahan di Penjara Robben Island, di luar kota Cape Town; kemudian dipindahkan ke Penjara Pollsmoor, dekat daratan. Selama di penjara, reputasi Nelson Mandela perlahan semakin naik. Ia diakui sebagai pemimpin kulit hitam yang paling menonjol di Afrika Selatan dan menjadi symbol perlawanan ketika gerakan anti-Apartheid semakin kuat. Ia secara konsisten menolak menghentikan gerakan perlawan untuk memperoleh pembebasan dirinya. Nelson Mandela dibebaskan pada 11 Pebruari 1990. Setelah dibebaskan, ia secara all-out berjuang untuk mewujudkan cita-citanya yang telah ia perjuangkan selama 40 tahun. Pada 1991, Mandela terpilih menjadi Presiden ANC, sementara teman seperjuangannya, Oliver Tambo, menjadi ketua harian.

Setelah menjadi Presiden Afrika Selatan melalui pemilu yang bersejarah pada 1994, Mandela diwawancarai oleh seorang wartawan dan ditanya apa yang akan dilakukan terhadap orang-orang yang pernah memenjarakannya dan menghinakannya. Konon, ketika di penjara ia pernah dihinakan dan dikencingi, suatu perlakuan yang tentunya sakat menyakitkan. Secara mengejutkan, Nelson Mandela menjawab pertanyaan wartawan itu dengan mengatakan, “…..to forgive but not to forget.” Artinya “….memaafkan tetapi tidak melupakan.

Banyak tokoh pembuat sejarah yang lahir didunia ini. Sejarah adalah Guru yang terbaik, maka kita harus belajar dari sejarah. Semakin banyak merenung, semakin banyak pula pelajaran yang bisa kita dapat. Al-Qur’an dengan jelas mendorong agar kita terus mengambil ‘ibrah (pelajaran) di  mana saja (fa’tabiru ya ulil abshar). Mandela telah memberi pelajaran tentang perjuangan melawan kedzaliman, melawan diskriminasi. Ia juga memberikan pelajaran tentang pentingnya memaafkan, tidak mendendam mereka yang pernah mendzaliminya. Ia juga memberikan pelajaran untuk tidak melupakan kesalahan masa lalu agar tidak mengulang kesalahan yang sama.

Tidak mustahil, Nelson Mandela sesunggunya belajar dari Nabi Muhammad SAW ketika menaklukan kota Makkah, yang penduduknya pernah berencana membunuhnya. Nabi Muhammad SAW menyatakan saat penaklukan itu, “antum thulaqa’,” yang artinya, “wahai penduduk Makkah, kamu semua bebas” tidak aka nada balas dendam.


Oleh :
Syafiq A. Mughni, Matan, Edisi 72, Juli 2012

MENELADANI PERJUANGAN NELSON MANDELA

Posted by Reza Arrizal F
Sabtu, September 15, 2012
SIAPA tidak pernah mendengan istilah pendidikan karakter? Bapak-ibu guru mungkin tidak asing dengan format pendidikan yang ramai dijumpai di sekolah dewasa ini. Pada berbagai daerah pun muncul desakan agar pendidikan karakter dibakukan dalam kurikulum. Padahal model pendidikan dari Barat ini bukan tanpa kritik. Erma Hida Prawitasari, Direktur Andalusia Islamic Education Management Service mengkritik tajam metode pendidikan karakter. Ini disebabkan karena di Barat pendidikan ini berfaham bebas nilai.

“Pendidikan Karakter di Barat hanya membantu siswa menemukan nilainya sendiri. Jadi mereka bebas punya nilai yang berbeda-beda. Ini sangat bertentangan dengan Islam,” imbuh master pendidikan dari Universitas Boston ini suatu ketika dalam diskusi kantor  Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Jakarta.

Menurut Erma, di Barat, jika zina itu dilakukan anak dengan sadar, sukarela, dan bertanggungjawab, maka itu tidak bermasalah dalam pendidikan Karakter. Yang bermasalah justru kalau perzinahan dilakukan tanpa disertai sikap bertanggung jawab.

“Ini kan bertentangan dengan Islam. Dalam Islam, zina itu pasti dosa terlepas dari seorang anak itu mau bertanggung jawab untuk punya anak atau tidak,” cetus wanita lama tinggal di Barat ini.

Rupanya bukan saja model pendidikannya yang bermasalah, bahkan pendirinya pun memiliki sisi kelam.

Adalah Lawrence Kohlberg, yang dikenal sebagai Profesor dalam bidang psikologi sosial di Universitas Chicago. Selain itu Kohlberg juga terkenal sebagai pakar pendidikan di zamannya. Tidaklah heran jika teori moralnya dicicipi para mahasiswa keguruan di bangku perkuliahan.

Lahir di Bronxville New York tahun 1927, Kohlberg terlahir sebagai seorang Yahudi. Kisahnya kemudian dihiasi dengan berbagai usaha memobilisir eksodus warga Yahudi ke Palestina. Meskipun masih terbilang muda (18 tahun), ia telah berkomitmen kepada Zionisme dan turut mengangkat senjata. Kecintaannya akan berdirinya Negara Israel raya dibuktikannya dalam menjalani aksi-aksi penuh resiko.

Cerita memilukan ini bermula dari tugas akademisnya di Punta Gorda, Belize, sebuah negara kecil di pesisir timur Amerika Tengah. Kunjungan itu dilakukan Kohlberg pada tahun 70-an beberapa saat setelah ia pulang dari negara Zionis Israel. Selama di Belize, pria berambut panjang ini untuk melakukan penelitian sepuluh hari dari bulan desember 1971 hingga awal 1972.

Selama penelitiannya itu, Kohlberg tidak sadar telah terinfeksi sebuah parasit bernama Giardia Lamblia. Parasit ini terkenal sebagai salah satu parasit ganas yang menyerang 200 juta penduduk bumi di seluruh dunia. Meski kecil, Giardia Lamblia dapat memicu demam tinggi pada tubuh manusia.

Seperti ditulis Garz Detlef dalam buku biografi tentang Kohlberg, Lawrence Kohlberg: An Introduction, penyakit mengerikan Kohlberg berhasil didiagnosa dokter pada Mei tahun 1973. Kohlberg kemudian harus menerima suatu kondisi, dimana rasa sakit, ketidakberdayaan, hingga pada tahap depresi melanda kehidupannya selama 16 tahun. Hal ini tidak lain disebabkan efek dari virus yang ditancapkan sang parasit. Untuk meredakan penyakitnya, Kohlberg pun kemudian dirawat pada sebuah rumah sakit di Cape Pod, Massachusetts.

Perawatan intensif Rumah Sakit rupanya tidak membawa Kohlberg pada kesembuhan. Kondisi yang tak jua kunjung membaik, membuat kondisi kesehatan Kohlberg menurun, baik secara fisik maupun mental. Inisiator pendidikan karakter ini pun diliputi rasa putus asa. Entah kenapa gagasan pendidikan karakter yang ia telurkan tidak terinternalisasi dengan baik pada dirinya.

Kohlberg terjerembab pada depresi berkepangangan dan tidak banyak berjuang untuk bertahan. Ironisnya, Kohlberg justru terfikir untuk mengakhiri hidupnya. Tentu ini adalah sebuah aib bagi dunia psikologi yang mengajarkan perlawanan untuk keluar dari sebuah masalah.

Senin, 19 Januari 1987, Kohlberg meminta cuti satu hari dari Rumah Sakit Massachusetts tempat ia dirawat. Tanpa diketahui pihak medis, Kohlberg lalu pergi dengan mobilnya menuju pantai yang sepi. Kabarnya, Kohlberg dihantui persaan gundah. Ia merasa sudah putus asa melihat penyakitnya tidak beranjak kepada kesembuhan.

Mulai saat itu, kabar kaburnya Kohlberg mencuat di media massa. Banyak orang mencari keberadaanya namun tidak berhasil mendapati aktivis yang menyelundupkan bangsa Yahudi ke Palestina terebut. Dan kabar beredar bahwa Kohlberg justru mengunjungi Boston Harbor, sebuah daerah tepi pantai dekat Samudera Atlantik. Dan di samudera Atantik itulah, pencetus pendidikan Karakter ini rela membunuh dirinya sendiri secara tragis. Kohlberg menenggelamkan tubuhnya ke dalam samudera bersama virus yang telah menggerogotinya dalam waktu sekian lama.

Sesaat setelah itu, informasi menghilangnya Kohlberg masih mewarnai media-media besar di Amerika Serikat. Polisi pun terlihat sibuk mencari tahu kabar kaburnya Kohlberg.

Dalam laporan The New York Times, polisi hanya menemukan mobil Kohlberg terparkir di perumahan Jalan Winthrop pada tanggal 21 Januari 1987. Hingga jasad Kohlberg akhirnya berhasil diketemukan pada April 1987. Tepat pukul jam 12:30 siang, seorang polisi negara bagian patroli menemukan jenazah Kohlberg mengapung sekitar 1.000 meter ke arah selatan pantai. Dari hasil pemeriksaan medis, disimpulkan bahwa tenggelam adalah penyebab kematian seorang Kohlberg.

Sayangnya, hingga kini kematian Kohlberg masih saja dirayakan oleh beberapa kalangan di Amerika. Mereka menilai Kohlberg telah mengambil pilihan hidup yang tepat bagi dirinya. Iya, persis seperti doktrin pendidikan karakter.*


Sumber

BULAN Ramadhan adalah momentum bagi umat manusia melatih dirinya mengendalikan hawa nafsu. Hawa nafsu adalah kecenderungan jiwa kepada sesuatu baik itu berupa kebaikan atau keburukan. Setiap ayat Al Qur’an yang menyebutkan tentang hawa nafsu selalu dalam bentuk pencelaan di samping mengingatkan agar kita tidak mengikuti dan cenderung kepadanya. Di sinilah kita ditempa oleh Allah Shubhanahu Wata’ala di bulan yang suci. Bulan di mana setiap orang beriman dituntut untuk mendahulukan kewajibannya dengan mengendalikan hawa nafsunya.

Salah satu ibrah menahan hawa nafsu itu dapat kita petik dari seorang ulama dan sastrawan kenamaan asal Mesir. Dialah Sayyid Quthb. Kisah menahan hawa nafsu dari penulis tafsir Fi Zhilalil Qur’an ini dimulai saat ia menuju Amerika Serikat. Ia menumpang sebuah kapal laut dari Mesir menuju benua Amerika dalam rangka melakukan tugas penelitian.  Kisah ini tertuang dalam buku "Amarieeka Minaddaghili", karangan Dr. Abdul Sholah Fatah Al Kholidi yang menulis secara khusus pengalaman Sayyid Quthb di negeri Paman Sam.

Al Kholidi menulis bahwa Sayyid Quthb yang baru saja ditolak cinta oleh pujaan hatinya (calon istri), harus mengalami ujian silih berganti. Cobaan untuknya pertama kali terjadi ketika seorang wanita cantik tiba-tiba mengajaknya berhubungan seksual di sebuah kamar kapal. Hal itu terjadi tidak lama setelah Sayyid Quthb memasuki kamarnya untuk istirahat.

Saat itu suara seorang perempuan terdengar mengetuk pintu kamarnya. Sayyid Quthb lalu membukanya. Tak disangka, ternyata di hadapannya telah berdiri seorang wanita setengah telanjang dengan gaya merangsang. Sang wanita itu menyapa Sayyid lewat bahasa Inggris, "Bolehkah saya menjadi tamu tuan malam ini?"
Sayyid terperangah. Ia hampir saja kalap. Ia sadar sedang diuji oleh Allah, karena Sayyid sudah bertekad menyerahkan seluruh jiwa dan raganya hanya untuk Islam. “Saya bermaksud menjadi orang kedua, yakni orang Islam yang loyal dan kukuh, dan Allah berkehendak menguji saya: apakah maksud dan niat saya ini benar, atau hanya sekedar bisikan hati saja?” gumam Sayyid membatin.


Namun bukan Sayyid Quthb namanya jika tidak tahu bahwa inilah ‘jawaban’ yang diberikan oleh Allah ketika ia betul-betul berjanji ingin memperbaiki diri. Ia lekas mengangkat kepalanya, lalu menolak rayuan wanita itu secara halus. Namun, wanita itu bergeming. Melihat kondisi tidak berubah ke arah lebih baik, Sayyid mengatakan, “Di kamar hanya ada satu tempat tidur, maaf.”



Mendengar jawaban Sayyid, wanita itu semakin mendesak untuk masuk. Ia bak singa lapar ingin menerkam mangsanya lewat tampilan sensual penuh godaan. Pada titik itulah, Sayyid bersikap lebih tegas. Lewat iman yang teguh, ia mengusir sang wanita menjauh dari kamar.



Begitu lulus dari ujian yang pertama, Sayyid Quthb segeramengucap: “Alhamdulillah, saya merasa bangga dan bahagia, karena saya telah berhasil memerangi hawa nafsu. Dengan demikian nafsu itu berjalan di atas jalan tekad yang saya tentukan.”



Wanita itulah senjata pertama yang dirancang Amerika untuk menggoda dan meruntuhkan iman Sayyid. Namun, Allah lebih mengetahui ketetapan jalan yang beliau pilih, yakni jalan Allah, jalan keimanan, jalan cahaya Rabbani yang terang menyala-nyala hingga Allah memberinya taufik dan pertolongan dalam memenangkan ujian hawa nafsu itu.

Tarbiyah Sejati
Namun bukan Amerika namanya jika masih belum jera memasukkan tiap muslim ke lubang galiannya. Mereka kembali memperalat seorang gadis guna menaklukan iman Sayyid. Dari satu universitas ke universitas lain, mereka setia menguntit setibanya Sayyid di Amerika dan mulai meneliti berbagai kampus di sana hingga datang seorang wanita yang berdebat dengannya tentang perlunya free sex di Institut Keguruan di Colorado dan Galersi.


Wanita itu menjelasakan tentang indahnya kehidupan seks di Amerika. Ia menawarkan Sayyid untuk tidak ragu mencicipinya. Sayyid sadar, ia kembali diuji. Namun lagi-lagi, cobaan itu kembali berhasil dilaluinya. Ia bergeming dan tidak tergoda sedikitpun atas tawaran sang gadis.



Sudah selesaikah ujian untuk Sayyid? Ternyata tidak. Cobaan ketiga datang dari seorang pegawai hotel yang dengan promosi cabulnya menawarkan wanita-wanita cantik. Kembali, Sayyid Quthb hanya tersenyum dan menolak tawaran hina itu.



Bayangkan itu semua terjadi di tengah kondisi negara bebas seperti Amerika dan dalam kondisi Sayyid sedang rindu akan sosok pendamping. Tak sedikit pemuda Muslim yang hanya dalam waktu satu hingga dua bulan terjebak atas tawaran memikat dari pesona sensual Amerika. Inilah hasil dari tarbiyah sejati dari Sayyid Quthb yang sejak kecil telah dididik oleh ibunya lewat untaian rabbani.



Ujian itu terus silih berganti dayang. Kali ini seorang pemuda Arab yang mencoba mempengaruhi Sayyid dengan ceritanya tentang pergaulan bebas yang dilakukannya dengan wanita-wanita Amerika.



Pemuda itu menceritakan bak setan tengah mempengaruhi manusia untuk menjajal perilaku tercela, walau hanya sedetik berselimut syahwat jelata. Lagi-lagi, Sayyid bersyukur. Ia mengucapkan alhamdulillah, betapa Allah amat sayang kepadanya. Godaan demi godaan mampu ia tepis lewat sebongkah cahaya Iman yang terpatri dalam hati.



Ada pula seorang perawat yang menceritakan kelebihan-kelebihan yang didamba oleh setiap laki-laki. Juga upaya seorang mahasiswi untuk menghapus rasa jijik pada pikiran beliau terhadap hubungan seksual yang kotor. Ia menganggap bahwa hubungan seksual tidak lebih dari praktek hubungan biologis yang tidak ada alasan bagi manusia untuk mencelanya, baik dari segi etika maupun lainnya. Sekali lagi, iman Sayyid sangat tebal. Itulah kunci ia mampu menjadi pria sejati walaupun hingga akhir hayat ia tidak beristri. Kebathilan demi kebathilan tersebut, tak mampu menghanyutkannya kepada dunia. Subhanallah.



Itulah Sayyid Quthb yang kelak sepulangnya dari Amerika, beliau bergabung dengan barisan gerakan Al Ikhwan al Muslim dan disebut-sebut sebagai ideolog kedua Ikhwan sekaligus mujahid yang tercecer darah syuhada dalam hidupnya. Semoga Allah memberikan menempatkannya bersama kafilah Syuhada di jannah Allahuta’ala. Allahuma Aamiin.*




Oleh: Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi


Senin, Juli 23, 2012
18 Juli 2012 19:43 WIB
Dibaca: 2074
Penulis : M. Arifin Ismail, Ketua Umum PCIM Malaysia


Barangsiapa diantara kamu yang menyaksikan anak bulan Ramadhan maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu ( QS. Al Baqarah : 285 ).
Perbedaan metrode untuk menentukan awal bulan, baik itu awal ramadhan maupun awal syawal terjadi disebabkan perbedaan ijtihad dalam metode antara kaedah apakah awal bulan tersebut dilakukan dengan adanya “ wujudul hilal” ( adanya anak bulan-walaupun belum nampak dilihat tetapi ada dalam perhitungan ilmu falak ) atau metode “imkanurrukyah “ ( kemungkinan nampaknya anak bulan- sehingga untuk nampaknya anak bulan diperlukan ketinggian dua derajat ). Perbedaan metode ini terjadi disebabkan perbedaan ijtihad dalam memahami nash dalil tentang melihat anak bulan, daripada nash alQuran dan hadis. Dalam al Quran disebutkan : “ Siapa diantara kamu yang menyaksikan anak bulan Ramadhan maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu “ ( QS. Al Baqarah : 285 ). Rasulullah juga bersabda : “ Hendaklah kamu berpuasa karena melihat anak bulan, dan berbukalah kamu karena melihat anak bulan, dan jika langit mendung maka cukupkanlah tiga puluh hari “ ( riwayat Muslim.). Dalam hadis lain, riwayat Bukhari dan Muslim dinyatakan : “ Satu bulan itu mempunyai 29 malam, oleh itu jangan kamu mulakan puasa sehingga kamu melihat anak bulan. Jika cuaca pada malam itu mendung dan kamu tidak dapat melihat anak bulan, maka sempurnakanlah 30 hari bagi perhitungan untuk bulan sya’ban “.

Perbedaan terjadi akibat perbedaan dalam memahami kalimat “ melihat anak bulan “ dalam nash diatas, apakah melihat itu berarti melihat dengan mata kepala atau dengan teropong sehingga mensyaratkan ketinggian tertentu untuk dapat dilihat, ataukah kalimat “melihat “ itu juga diartikan sudah adanya anak bulan dengan perhitungan astronomi walaupun belum dapat dilihat oleh pandangan mata ?. Perbedaan pemahaman inilah yang mengakibatkan perbedaan metode dalam menentukan anak bulan . Metode pertama melihat anak bulan dalam arti “ anak bulan dapat dilihat “. Melihat anak bulan diperlukan ketinggian derajat tertentu sehingga jika anak bulan tidak terlihat , seperti jika ada awan, atau belum sampai ke derjat yang terlihat, maka dianggap anak bulan belum nampak. Untuk itu maka perhitungan bulan hijriyah sebelumnya digenapkan menjadi tiga puluh hari. Metode kedua menyatakan bahwa “melihat anak bulan “ dalam arti “ sudah adanya bulan ( wujudul hilal ) “, sehingga jika bulan sudah ada, maka jatuhlah awal bulan, walaupun anak bulan tidak terlihat disebabkan kurangnya ketinggian untuk sampai terlihat, tetapi dengan perhitungan ilmu astronomi, anak bulan sudah ada maka awal bulan dapat ditentukan dengan adanya anak bulan tersebut. Kelompok kedua ini berijtihad bahwa kalimat “ anak bulan dapat dilihat :, maksudnya adalah anak bulan sudah ada menurut perhitungan astronomi, walaupun tidak terlihat sebab terlihatnya bulan memerlukan syarat ketinggian tertentu.

Perbedaan juga terjadi dengan perbedaan Matla ( tempat keluar anak bulan ). Bagi sebagian ulama, muncul anak bulan di suatu tempat di muka bumi ini, misalnya di Saudi Arabia, di Afrika, sudah dapat dijadikan patokan adanya bulan, walaupun di negeri lain tidak terlihat. Mazhab Hanafi menyatakan bahwa penduduk di negeri timur wajib berpuasa jika mendapat kepastian bahwa anak bulan kelihatan di negeri bahagian barat. Mazhab Maliki berpendapat bahwa apabila anak bulan kelihatan, puasa hendaklah ditunaikan di seluruh negeri baik itu negeri yang dekat atau jauh. Mazhab Hanbali menyatakan bahwa apabila telah tetaplah kelihatan anak bulan di satu tempat sama ada dekat atau jauh, maka semua orang wajib berpuasa dan bagi orang yang tidak melihatnya juga wajib berpuasa sebagaiman diwajibkan bagi orang yang telah melihat anak bulan tersebut. Sedangkan bagi sebagian ulama lain seperti mazhab Syafii, menyatakan bahwa perbedaan Matla’ diambil kira, sebab nampak di suatu tempat, untuk hukum di tempat terbeut, dan tidak dapat berlaku bagi tempat yang belum nampak anak bulan. Pendapat ini berdasarkan bahwa waktu shalat juga berbeda dengan adanya matla’, sebab itu perbedaan menentukan awal bulan juga dibenarkan. Ulama Syafii mengatakan dibolehkan nya perbedaan tersebut berdasarkan hadis daripada sahabat Kuraib, menyatakan bahwa Ummu Fadl menghantarkannya menemui Muawiyah di negeri Syam ” Aku tiba di Syam dan menunaikan hajatnya sedangkan pemberitahuan anak bulan berkumandang di udara. Aku melihat anak bulan pada malam Jumat kemudian aku balik ke Madinah pada akhir bulan. Pada waktu itu aku ditanya oleh Ibnu Abbas tentang anak bulan. Kata Ibnu Abbas, ” Bilakah kamu melihat anak bulan ? ” Aku menjawab : ” Kami melihatnya pada malam Jumat ”. Ibnu Abbas bertanya lagi : ” Adakah engkau sendiri melihat anak bulan ? ”. Aku menjawab : ” Ya, dan orang lainpun melihatnya, mereka berpuasa dan Muawiyah juga berpuasa ”. Ibnu Abbas berkata : ” Kami disini melihat anak bulan pada malam Sabtu, oleh karena itu kami terus berpuasa hingga kami sempurnakan 30 hari atau hingga kami melihat anak bulan syawal ”. Aku bertanya lagi : ” Tidakkah memadai bagi kalian dengan terlihatnya anak bulan itu dan puasanya khalifah Muawiyah ”. Ibnu Abbas menjawab : ” Tidak, beginilah caranya Rasulullah saw menyuruh kami ”. ( Wahbah Zuhaili, Fiqul Islam wa adillatuhu, jilid 2 ). Menurut hadis diatas, penduduk Syam dan khalifah Muawiyah menentukan awal bulan pada malam jum’at, dan mulai berpuasa pada hari jum’at, sedangkan penduduk madinah tidak melihat bulan sehingga mereka menyempurnakan bilangan bulan, dan mulai berpuasa pada harin sabtu, walaupun pada waktu itu madinah masih dibawah pemerintahan Muawiyah, yang beribukota di negeri Syam. Oleh sebab itu, hadis ini menjadi dalil bahwa terlihatnya bulan d suatu negeri tidak dapat menjadi hukum bagi negeri yang lain, dan dalil bagi dibolehkannya berbeda dalam melihat anak bulan antara satu negeri dengan negeri yang lain. Kedua-duanya adalah sah dan tidak ada yang salah, sebab kedua-duanya melihat bulan dalam tempatnya masing-masing. Dalam Fiqih Islam, perbedaan tersebut tidak menjadi masalah, apakah itu perbedaan metodologi, ataupun perbedaan matla’, sebab kedua metodologi tersebut tetap mengacu kepada dalil yang sah berdasarkan nash yang kuat.

Perbedaan tersebut sudah terjadi sejak pada zaman sahabat sampai sekarang, demikian juga akan tetap terjadi perbedaan dimasa mendatang. Perkara yang utama, adalah sikap menghargai perbedaan masing-masing, sebab perbedaan metode ataupun perbedaan dalam matla’ tidak boleh menjadi sebab pertengkaran dan perpecahan. Sebagaimana telah dilakukan oleh sahabat terdahulu, perbedaan menentukan awal ramadhan bagi masyarakat Madinah, tidak menjadi persoalan yang dibesarkan oleh khalifah Muawiyah dan masyarakat Syam, sebab mereka memahami bahwa perbedaan itu terjadi juga berdasarkan nash dari hadis nabi. Itulah sebabnya Ibnu Abbas berkata bahwa mereka melakukan puasa hari sabtu, sebab mereka tidak nampak bulan pada malam jumat, sedangkan bagi masyarakat Syam bulan sudah nampak pada malam jumat, sehingga mereka berpuasa pada hari jum’at. Masyarakat Syam tidak menyalahkan masyarakat madinah sebab mereka berpuasa di hari sabtu, sebab mereka memahami bulan tidak terlihat bagi masyarakat Madinah pada malam Jumat sehingga mereka menggenapkan bilangan sampai tiga puluh hari dan baru memulai puasa pada hari sabtu. Sikap yang diambil oleh masyarakat Madinah juga berdasarkan hadis ” jika cuaca mendung dan anak bulan tidak terlihat maka sempurnakanlah tiga puluh hari ”. Demikian juga masyarakat Madinah memahami sebab perbedaan masyarakat Syam karena mereka telah melihat bulan sesuai dengan hadis nabi ” berpuasalah kamu jika kamu melihat anak bulan ”. Kedua masyarakat tersebut perbeda dalam menentukan awal puasa, dan keduanya sama-sama berdasarkan nash hadis Rasulullah, sehingga Ibnu Abbas berkata : ” Demikianlah cara Rasulullah menyuruh kami ”. Artinya kami berpuasa pada hari Sabtu tersebut sesuai dengan perintah Nabi, dan bagi masyarakat Syam mereka berpuasa pada hari jumat juga sesuai dngan perintah nabi. Sikap menghargai perbedaan tersebut merupakan sikap yang diperlukan pada hari ini. Masyarakat yang menentukan awal ramadhan dengan ” wujudul hilal ” yang biasanya dipakai oleh kelompok tertentu seperti ormas Muhamadiyah harus menghormati mereka yang menentukan awal ramadhan dengan metode ” imkanurukyah ” yang dipakai oleh kelompok lain. Demikian juga kelompok yang memakai ”imkanuukyah ” walaupun didukung oleh keputusan pemerintah dan mayoritas ormas Islam seperti Nahdatul Ulama, AlWashliyah, dan ormas lain juga harus menghormati kelompok yang memakai metode ”wujudul hilal ”. Demikian juga kelompok yang mengikut awal ramadhan sesuai yang ditentukan oleh negara Arab karena memakai Matla yang satu sebagaimana dipakai oleh mazhab Hanafi, Maliki dan Hanbali juga harus menghormati mazhab Syafii yang akan menentukan awal ramadhan sesuai dengan perbedaan matla’. Demikian juga pengikut mazhab syafii hatus menghormati pengikut mazhab lain yang akan berpuasa mengikut dengan ketentuan puasa negeri yang lain. Sikap saling menghormati perbedaan dan pendapat inilah yang merupakan kunci persatuan umat. Marilah kita masuki bulan ramadhan dengan semangat ukhuwah dan persatuan bukan dengan mencari-cari kesalahan dan perbedaan. Fa’tabiru Ya Ulul albab.

Sumber

Antara Hisab dan Rukyah

Posted by Reza Arrizal F

Search

Popular Posts

Translate

reza cute. Diberdayakan oleh Blogger.


Fans Pages

Get this widget!
close

Copyright © VANREZ -Reza Arrizal Firdaus- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan